Senin, 17 September 2012

That Time.

Ketika aku tersadar bahwa ternyata, aku bukan sekedar menyayangimu, namun aku juga mencintaimu.

Tapi tiba-tiba, kamu berbicara.
Lalu memutuskan untuk mengambil keputusan.
Bahwa keputusanmu ini adalah kekhawatiranku selama ini.
Kekhawatiran yang sekarang telah kamu lakukan. Padaku..

Kini, perihmu menjadi perihku.
Sakitmu menjadi sakitku.
Dan lukamu menjadi lukaku.

Dan akhirnya, semua sirna begitu saja.
Tanpa meninggalkan kasih sayang lagi sedikit pun, namun hanya meninggalkan bekas yang sakit&perih.

 Disini aku.
Aku yang merasakan semua sakit&perih yang bersatu menjadi luka.

Disini aku.
Aku sebagai perempuan yang memiliki perasaan begitu sensitive.

Namun kamu.
Kamu adalah lelaki yang santai.
Santai dalam semua hal termasuk cinta&perasaan.
Santai dalam melakukan apapun.

Sehingga aku yang tidak dapat "bersantai" dalam meresponmu.
Tapi apa guna..
Apa gunanya merenungi kisah-kasih ini sedangkan kamu tidak memikirkannya sedikit pun.

Memikirkan kisah ini? Memikirkan aku&perasaanku pun saja sepertinya kamu tidak pernah.

Disini aku.
Aku yang tersakiti menahan rasa perih dari lukamu..
Di hatiku.



Disini aku yang merasakan, Arruum Widya Sari, 15tahun, pelajar SMA.